maidaniipancakedurian.com distributor resmi pancake durian oleh-oleh khas medan

Menurut pandangan Aristotels anima yang lebih tinggi mencakup sifat-sifat atau kemampuan-kemampuan yang dimliki oleh anima yang lebih rendah. Anima Intelektiva merupakan tingkatan anima yang paling tinggi, sedangkan anima vegetativa merupakan tingkatan anima yang terendah.
Senada dengan penjelasan para pakar sebagaimana tersebut diatas, seorang tokoh pendidikan nasional Indonesia Ki Hadjar Dewantara memberi penjelasan tentang pengertian jiwa sebagai berikut.
1. Jiwa adalah kekuatan yang menyebabkan hidupnya manusia
2. Jiwa adalah esensi yang menyebabkan manusia dapat berfikir, berperasaan dan berkehendak (berbudi)
3. Jiwa jugalah yang menyebabkan orang menjadi mengerti (know and understanding) atau insyaf, sadar (insight, awarness) akan segala gerak jiwanya. Sehingga jiwa memberikan kekuatan pada manusia untuk bertanggung jawab atas tingkah laku dan perbuatannya.
Sekalipun sulit untuk memberikan jawaban atas pertanyaan apa sebenarnya jiwa itu, namun adanya kenyataan bahwa manusia itu berjiwa tidak dapat dibantah kebenarannya. Sekalipun jiwa itu sendiri tidak menampak, tetapi dapat dilihat keadaan-keadaan yang dapat dipandang sebagai gejala-gejala kehidupan jiwa. Misalnya orang yang sedang menggerutu menandakan bahwa orang tersebut sedang tidak senang hatinya, orang yang sedang ketawa-ketiwi bersama teman-temannya dapat diperkirakan bahwa orang tersebut sedang bersenang-senang, demikian pula sebaliknya orang yang wajahnya besengut dapat diduga kuat orang tersebut sedang bersedih hati, jengkel atau marah.

maidaniipancakedurian.com distributor resmi pancake durian oleh-oleh khas medan

Keharmonisan perkembangan untuk seluruh aspek pribadi atau kejiwaan tersebut sangat diperlukan, agar supaya tidak terjadi penojolan pekembangan untuk salah satu aspek pribadi saja yang akibatnya akan terjadi perkembangan yang ekstrem untuk satu aspek saja. Misalnya perkembangan yang ekstrem pada unsur cipta atau cognition akan menyebabkan manusia brsifat intelektualistis. Ekstrem pada perkembangan rasa atau affectif menyebabkan individu menjadi emosionalistis, perkembangan karsa menyebabkan voluntaristis, ekstrem pada perkembangan sifat sosial menyebabkan altruistis, ekstrem pada perkembangan individulitas menyebabkan egoistis, ekstrem pada pemeliharaan raga saja menyebabkan animalistis dan lain-lain sebagainya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s